Aku dalam Indonesia ku melihat tetapi Indonesia ku lah yang lebih merasakan. Indonesia sebagai sebuah negara dengan kemajemukannyalah yang lebih merasakan pahit maupun manis kebangsaan Indonesia. Indonesia dengan beragam suku, budaya, agama, bahasa, karakter, dan masih banyak lagi. Semua itu terhimpun di Negeri ini.
Pembangunan ekonomi tahun demi tahun terus digenjot. Pemerintah terus berusaha menaikkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah terus berusaha mendengarkan keluh kesah rakyatnya hingga mencoba berbuat sesuatu untuk merubahnya. Pemerintah memperbaiki sarana dan pra sarana umum, baik dari segi kesehatan, pendidikan, hingga jalan, jembatan, dsb.
Pembangunan ekonomi tentunya bertujuan untuk memperkecil jurang pemisah antara golongan kelas atas dan bawah. Ketersediaan lapangan kerja yang lebih banyak diiringi pengurangan tingkat pengangguran sangat diharapkan terjadi.
Pembangunan ekonomi sedari dulu nampaknya menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Beberapa berpendapat, dengan pembangunan ekonomi yang bergerak vertikal ke atas maka secara otomatis aspek-aspek kehidupan lainnya akan mengalami peningkatan pula.
Banyak pemuda Indonesia berharap bisa menjadi pengusaha. Mereka berasumsi, menjadi pengusaha nan sukses akan membawa kesenangan. Mereka berorientasi akan materi. Materi itulah yang kini membuat mereka berpikir. Mereka berpikir bagaimana bisa meraih targetnya. Mereka berpikir, mencari, menilik, dan berani mengambil setiap peluang yang melintas di depannya. Mereka memberanikan diri memanfaatkan tiap kesempatan dengan segala resiko yang siap tak siap harus mereka ambil pula.
Pengusaha-pengusaha itu tak lelah menggarap inovasi-inovasi yang diharapkan membawa keuntungan. Keuntungan yang akan bisa memenuhi targetnya tadi. Mereka sendiri bergerak tetapi lebih suka menggerakkan orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka lebih menggunakan otak mereka. Rasionalitas yang lebih sering egois ternyata. Mereka berusaha dengan jeli melihat peluang, mengambil kesempatan itu, lalu mencari pasar yang pas. Dengan begitu, bisnis mereka akan sukses.
Indonesia yang menyediakan banyak ruang, semakin hari semakin tak memiliki ruang untuk bernapas. Pengusaha lama maupun baru berdatangan, berlomba mengambil tiap lahan potensial untuk mengembangkan usahanya. Modal ditanamkan, tiang beton ditancapkan. Bisa kita lihat para buruh bangunan bekerja sejak pagi hingga sore hari untuk mewujudkan permintaan sang bos. Dengan menghitung jam, perwajahan Indonesia pun sudah pangkling.
Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya sudah tak aneh untuk orang sekarang. Dahulu, di mana wajah Jakarta baru saja bertransformasi, orang tua kita melihatnya dengan mimik muka yang amat berdecak kagum. Akibat kekagumannya itu, tingkat urbanisasi pun tinggi. Orang-orang desa memiliki cita-cita untuk bisa mengunjungi Jakarta. Mereka akan berteriak dan berlompat ketika berhasil melihat MONAS.
Seiring waktu, decak kagum yang menggembirakan itu sudah tak ada. Decak kagum yang menyenangkan hati itu sudah berubah menjadi sebuah keprihatinan. Jakarta bisa disebut kota acuan untuk kota-kota lainnya. Jakarta sudah lengkap, mulai dari mall-mall megah hingga pusat bisnis dan pemerintahan. Bandung, Surabaya, Medan, dan kota-kota besar lainnya sedang mengembangkan diri menjadi kota dengan pendapatan daerah yang tinggi. Slogan sebagian besar kota di Indonesia adalah menyandingkan kata kesuksesan, spiritualitas dan keramahan lingkungan. Ketiga kata itu merefleksikan visi dan misi kota tersebut. Kenyataannya, sering tak ada keseimbangan antara ketiga kata itu.
Gedung-gedung pencakar langit, ruangan ber-AC, mobil-mobil mewah di jalanan, gaya berbusana yang up to date di perkotaan, seolah menutup jerit tangis mereka yang belum bisa melakukan mobilitas sosial vertikal ke atas. Di antara indikator-indikator di atas, yang paling dominan merubah perwajahan Indonesia adalah gedung-gedung yang terus dibangun. Beton-beton itu bisa disebut amat kejam karena mampu menyamarkan ataupun menutupi kesengsaraan rakyat lapisan menengah ke bawah.
Gedung menyala terang di tengah malam. Kursi empuk, kantin dengan makanan-makanan lezatnya, kelap-kelip lampu depan gedung-gedung itu sangat kontras dengan pemukiman kumuh yang mencoba menyelip di bawah jembatan. Potongan kardus-kardus yang telah dipilih disusun dan terangkailah suatu bangunan untuk beristirahat. Kepala bersandarkan kepalan tangan, kedua kaki dibiarkan tanpa selimut, bahkan untuk berbagi tempat tidur dengan anggota keluarga lainnya, kedua kaki itu harus ditekuk. Lalu jika kepanasan, tak ada AC maupun kipas angin untuk mendinginkan suhu ruangan. Makan saja susah apalagi mendapatkan tempat layak untuk tinggal. Memandang mereka yang bermimpi dapat makan nasi dan lauknya saja, sungguh mampu membuat orang-orang yang peduli akannya menyeka air mata. Hanya saja, beton-beton tadi lebih dominan mengisi spasi tengah kota. Efektivitas program pembangunan nasional terus mereka nanti. Mereka berusaha memompa optimisme untuk hidup sebagai titik tolak langkahnya setiap hari.
Berbagai aspek kehidupan masih amat prihatin. Kualitas kependudukan Indonesia, dimulai dari kulitas kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, masih banyak yang harus dibenahi maupun direkonstruksi. Keprihatinan muncul karena orientasi materiil yang sudah melewati ambang batas. Eksploitasi lahan tanpa eksplorasi dan pertanggungjawaban moral urung dilakukan. Beton-beton tadi seolah menutupi keprihatinan tersebut. Lalu pertanyaannya adalah siapakah yang salah, beton-beton tadi ataukah pemerintah ataukah segenap rakyat negeri ini? Apa konsep pembangunan itu sendiri yang belum jelas??
Tak perlu Anda melontarkan jawabannya. Simpan saja dalam hati lalu lakukan sesuatu yang terbaik untuk semua.

7 komentar:
Lukmaaaaan !
ini punya lailaa. .
hahaa...itu teh komen kamu?
iyaa emg inii punya akuu! pembajakan weh. haha
hahaha. . bukan itu komentar dari cewe! wlee!
tentunya saya suka artikel ini.
oiya harusnya teh ada nama yg buatnya ai kamuu kl pny orglain teh.kode etiknya sperti ituu..hahahhaha
haha. . iyaaa neng lupaaa!
Posting Komentar